Jasa pengeboran sumur bor,sumur artesis berpengalaman 20 tahun profesional, berkualitas dengan harga terjangkau untuk kota Kupang dan Semua Wilayah Nusa Tenggara Timur kami melayani, perencanaan,studi air tanah,service pump,instalasi pipa,program air bersih desa,sumur dangkal,sumur untuk pertanian,irigasi,penyulingan air laut,pompa air tenaga surya,pompa submercible, bor manual,bor coring,bor file, penelitian air tanah,air permukaan, Hubungi Marketing kami : 081 337 039 007, 082145182298
Showing posts with label sumur bor. Show all posts
Showing posts with label sumur bor. Show all posts
Tuesday, April 3, 2018
Thursday, January 25, 2018
Jasa Sumur Bor Sabu Raijua
Pulau Sabu juga dikenal dengan sebutan Sawu atau Savu. Penduduk di pulau ini
sendiri menyebut pulau mereka dengan sebutan Rai Hawu yang artinya Tanah
dari Hawu dan orang Sabu sendiri menyebut dirinya dengan sebutan Do
Hawu. Nama resmi yang digunakan pemerintah setempat adalah Sabu.
Masyarakat Sabu menerangkan bahwa nama pulau itu berasal dari nama Hawu
Ga yakni nama salah satu leluhur mereka yang dianggap mula-mula
mendatangi pulau tersebut.
Menurut
sejarah, nenek moyang orang Sabu berasal dari suatu negeri yang sangat
jauh yang letaknya di sebelah Barat pulau Sabu. Pada abad ke-3 sampai
abad ke-4 terjadi arus perpindahan penduduk yang cukup besar dari India
Selatan ke Kepulauan Nusantara. Perpindahan penduduk itu disebabkan
karena pada kurun waktu itu terjadi peperangan yang berkepanjangan di
India Selatan. Dari syair-syair kuno dalam bahasa Sabu dapat diperoleh
informasi sejarah mengenai negeri asal leluhur Sabu. Syair-syair itu
mengungkapkan bahwa negeri asal orang Sabu terletak sangat jauh di
seberang lautan di sebelah Barat yang bernama Hura. Di India terdapat
Kota Surat di wilayah Gujarat Selatan yang terletak di sebelah Kota
Bombay, Teluk Cambay, India Selatan. Kota Gujarat pada waktu itu sudah
terkenal sebagai pusat perdagangan di India Selatan. Orang Sabu tidak
dapat melafalkan kata Surat dan Gujarat sebagaimana mestinya, sehingga
mereka menyebutnya Hura. Para pendatang dari India Selatan ini menjadi
penghuni pertama pulau Raijua di bawah pimpinan Kika Ga dan saudaranya
Hawu Ga. Keturunan Kika Ga inilah yang disebut orang Sabu (Do Hawu).
Setelah kawin mawin mereka kemudian menyebar di Pulau Sabu dan Raijua
dan menjadi cikal bakal orang Sabu.
Pembagian
wilayah di Sabu terjadi pada masa Wai Waka (generasi ke 18). Pembagian
ini dibuat berdasarkan jumlah anak-anaknya yang akan dibagikan
wilayahnya masing-masing yakni:
- Dara Wai mendapat wilayah Habba (Seba)
- Kole Wai mendapat wilayah Mehara (Mesara)
- Wara Wai mendapat wilayah Liae
- Laki Wai mendapat wilayah Dimu (Timu)
- Dida Wai mendapat wilayah Menia
- Jaka Wai mendapat wilayah Raijua
Pembagian
ini telah menyebabkan terbentuknya komunitas genelogis-teritorial,
dimana suatu rumpun keluarga terikat pada pemukiman tertentu. Karena
rumpun ini berkembang semakin besar maka dibentuk suatu sub rumpun yang
disebut Udu yang dikepalai oleh seorang Bangu Udu. Di Habba (Seba)
terdapat 5 Udu yang nantinya akan terbagi lagi menjadi Kerogo-Kerogo. Di
Sabu dan Raijua seluruhnya terdapat 43 Udu dan 104 Kerogo.
Diyakini
terdapat pengaruh Majapahit yang pada abad ke 14 sampai awal abad ke 16
berhasil menguasai dan menyatukan nusantara terhadap kehidupan
masyarakat Sabu. Beberapa bukti tersebut dapat dilihat pada :
- Mitos (cerita rakyat) yang memberikan penghormatan terhadap Raja Majapahit sehingga muncul cerita bahwa Raja Majapahit dan istrinya pernah tinggal di Ketita di Pulau Raijua dan Pulau Sabu.
- Ada kewajiban bagi setiap rumah tangga untuk memelihara babi yang setiap saat akan dikumpul untuk persembahan kepada Raja Majapahit.
- Ada batu peringatan untuk Raja Majapahit yang disebut Wowadu Maja dan sebuah Sumur Maja di wilayah Daihuli dekat Ketita.
- Setiap 6 tahun sekali ada upacara yang diadakan oleh salah satu Udu di Raijua, Udu Nadega yang diberi julukan Ngelai yang menurut cerita adalah keturunan orang-orang Majapahit.
- Motif pada tenunan selimut orang Sabu yang bergambar Pura.
- Di Mesara ada desa yang bernama Tana Jawa yang penduduknya mempunyai profil seperti orang Jawa dan ada tempat di dekat pelabuhan Mesara yang disebut dengan Mulie yang diambil dari bahasa Jawa Mulih yang berarti pulang
- sumber Pustaka :http://saburaijuakab.go.id/2016/index.php/en/profil-daerah/sejarah
-
Subscribe to:
Posts (Atom)

